Skip to content

Article image
Pengujian Kerentanan Antimikroba

Pengujian kerentanan antimikroba (AST) sangat penting dalam mikrobiologi klinis untuk memilih terapi antibiotik yang tepat dan memantau tren resistensi. Ini menentukan apakah isolat bakteri rentan, intermediet, atau resisten terhadap agen antimikroba tertentu.

Metode Disk Difusi (Kirby-Bauer)

Cakram kertas saring yang diresapi dengan konsentrasi antibiotik standar ditempatkan pada lempeng agar yang diinokulasi dengan organisme uji pada kekeruhan yang ditentukan (standar 0,5 McFarland). Setelah 16-24 jam inkubasi, zona inhibisi diukur dalam milimeter dan dibandingkan dengan tabel breakpoint CLSI atau EUCAST. Hasil dilaporkan sebagai Rentan (S), Intermediet (I), atau Resisten (R), dengan ukuran zona berkorelasi terbalik dengan konsentrasi hambat minimum (MIC). Metode ini sederhana, murah, dan fleksibel (cakram antibiotik apa pun dapat diuji), tetapi tidak cocok untuk organisme yang tumbuh lambat atau fastidious dan bersifat kualitatif daripada kuantitatif.

Metode Pengenceran Kaldu

Mikrodilusi kaldu dilakukan dalam pelat mikro 96-sumur dengan pengenceran serial dua kali lipat antibiotik dalam kaldu Mueller-Hinton. Setiap sumur diinokulasi dengan sekitar 5x10^5 CFU/mL, dan MIC adalah konsentrasi antibiotik terendah yang menghambat pertumbuhan bakteri yang terlihat setelah 16-20 jam inkubasi. Makrodilusi kaldu menggunakan prinsip yang sama dalam tabung reaksi dan cocok untuk jumlah isolat yang lebih kecil. Nilai MIC menyediakan data kuantitatif yang berguna untuk analisis farmakokinetik/farmakodinamik (PK/PD) dan deteksi resistensi tingkat rendah.

Pengenceran Agar

Lempeng agar yang mengandung pengenceran serial antibiotik diinokulasi dengan suspensi bakteri standar menggunakan replikator (multipoint inoculator Steers atau Denley). MIC dibaca sebagai konsentrasi terendah yang sepenuhnya menghambat pertumbuhan, dan beberapa isolat (hingga 36) dapat diuji secara simultan pada satu lempeng. Metode ini dianggap sebagai standar referensi untuk penentuan MIC, terutama untuk organisme fastidious dan anaerob.

Difusi Gradien (Etest)

Strip plastik dengan gradien antibiotik kontinu yang telah ditentukan di satu sisi dan skala pembacaan MIC di sisi lain ditempatkan pada lempeng agar yang diinokulasi. Setelah inkubasi, zona inhibisi elips memotong strip pada nilai MIC, dibaca langsung dari skala. Metode ini menggabungkan kenyamanan difusi disk dengan data MIC kuantitatif dan berguna untuk isolat tunggal atau ketika pengenceran kaldu tidak praktis.

Sistem Otomatis

Vitek 2 (bioMerieux), BD Phoenix, dan MicroScan WalkAway mengotomatiskan AST menggunakan mikrodilusi kaldu miniatur dalam panel kepemilikan dengan deteksi pertumbuhan melalui kekeruhan atau fluoresensi. Hasil biasanya tersedia dalam 4-12 jam, secara signifikan lebih cepat daripada metode manual. Sistem otomatis mencakup aturan pakar terintegrasi untuk mendeteksi pola resistensi yang tidak biasa dan menyarankan tindakan korektif.

Pengujian Khusus

Deteksi beta-laktamase spektrum luas (ESBL) menggunakan tes disk kombinasi dengan sefotaksim dan seftazidim dengan dan tanpa asam klavulanat; peningkatan diameter zona ≥5 mm mengonfirmasi produksi ESBL. Deteksi karbapenemase dilakukan menggunakan metode inaktivasi karbapenem termodifikasi (mCIM) dan EDTA-modified CIM (eCIM) untuk membedakan serine- dan metallo-karbapenemase. Resistensi klindamisin yang dapat diinduksi (D-test) melibatkan penempatan cakram eritromisin dan klindamisin 15-20 mm terpisah; perataan zona klindamisin (berbentuk D) menunjukkan resistensi makrolida-linkosamida-streptogramin B (MLSB) yang dapat diinduksi. Penentuan MIC vankomisin dengan mikrodilusi kaldu atau Etest lebih disukai untuk mendeteksi S. aureus intermediet vankomisin (VISA) dan VISA heterogen (hVISA).

Interpretasi dan Relevansi Klinis

Breakpoint klinis ditetapkan oleh CLSI (Clinical and Laboratory Standards Institute) dan EUCAST (European Committee on Antimicrobial Susceptibility Testing) berdasarkan distribusi MIC, data PK/PD, dan hasil klinis. Hasil Rentan (S) menunjukkan kemungkinan tinggi keberhasilan terapi dengan dosis standar; Resisten (R) menunjukkan kemungkinan tinggi kegagalan terapi; dan Intermediet (I) menunjukkan kemanjuran yang tidak pasti, berpotensi memerlukan dosis yang lebih tinggi atau rute alternatif. Hasil AST memandu terapi yang ditargetkan, mengurangi penggunaan antibiotik spektrum luas dan memperlambat perkembangan resistensi. Data AST kumulatif (antibiogram) digunakan untuk epidemiologi lokal, keputusan formularium, dan kontrol infeksi.