Skip to content

Article image
Reaksi Hipersensitivitas

May 9, 2026

Reaksi hipersensitivitas terjadi ketika sistem kekebalan tubuh memberikan respons yang berlebihan atau tidak tepat terhadap suatu antigen, sehingga menyebabkan kerusakan jaringan dan bukan perlindungan. Klasifikasi Gell dan Coombs membagi hipersensitivitas menjadi empat jenis.

Tipe I: Hipersensitivitas Langsung (Alergi)

Reaksi tipe I dimediasi oleh antibodi IgE yang terikat pada sel mast dan basofil. Setelah paparan berulang terhadap alergen, ikatan silang IgE permukaan memicu degranulasi dalam beberapa menit. Mediator yang dilepaskan termasuk histamin (vasodilatasi, bronkokonstriksi, pruritus), leukotrien (bronkokonstriksi berkelanjutan), prostaglandin, dan faktor pengaktif trombosit (PAF). Manifestasi klinis berkisar dari ringan (rinitis alergi, urtikaria, konjungtivitis) hingga anafilaksis sistemik berat (hipotensi, obstruksi jalan napas, syok). Alergen yang umum termasuk serbuk sari, tungau debu, bulu binatang, racun serangga, makanan (kacang tanah, kerang, telur), dan obat-obatan (penisilin). Diagnosis dilakukan melalui tes tusuk kulit, IgE spesifik serum (ImmunoCAP), dan tes aktivasi basofil. Pengobatannya melibatkan antihistamin (penghambat H1), kortikosteroid, epinefrin (untuk anafilaksis), dan imunoterapi spesifik alergen (desensitisasi).

Tipe II: Sitotoksisitas yang Dimediasi Antibodi

Reaksi tipe II melibatkan antibodi IgG atau IgM yang ditujukan terhadap permukaan sel atau antigen matriks ekstraseluler. Antibodi berikatan dengan sel target, menyebabkan kehancurannya melalui aktivasi komplemen (pembentukan MAC), sitotoksisitas yang dimediasi sel (ADCC) yang bergantung pada antibodi oleh sel NK, dan opsonisasi yang menyebabkan fagositosis. Contohnya termasuk anemia hemolitik autoimun (antibodi anti-RBC), sindrom Goodpasture (antibodi membran basal anti-glomerulus), miastenia gravis (antibodi reseptor anti-asetilkolin), reaksi transfusi (ketidakcocokan ABO), dan anemia hemolitik akibat obat, yang terjadi ketika obat teradsorpsi pada permukaan sel darah merah dan menimbulkan respons antibodi.

Tipe III: Hipersensitivitas yang Dimediasi Kompleks Imun

Reaksi tipe III terjadi akibat pengendapan kompleks imun antigen-antibodi yang larut dalam jaringan, khususnya dinding pembuluh darah, glomeruli ginjal, dan sendi. Kompleks imun mengaktifkan komplemen, menghasilkan C5a dan C3a (anafilatoksin) dan merekrut neutrofil, yang melepaskan enzim lisosom dan spesies oksigen reaktif yang menyebabkan kerusakan jaringan. Penyakit serum adalah penyakit kompleks imun sistemik setelah pemberian protein asing (antisera, obat-obatan tertentu), dengan gejala berupa demam, ruam, radang sendi, dan glomerulonefritis. Reaksi Arthus adalah vaskulitis kompleks imun terlokalisasi di tempat suntikan. Contoh autoimun termasuk lupus eritematosus sistemik (kompleks antibodi anti-nuklir pada ginjal, kulit, sendi), artritis reumatoid (kompleks anti-IgG IgM pada sendi), dan glomerulonefritis pasca-streptokokus.

Tipe IV: Hipersensitivitas Tipe Tertunda (DTH)

Reaksi tipe IV dimediasi oleh sel T, terjadi 24-72 jam setelah paparan antigen. Mereka tidak melibatkan antibodi; sebaliknya, sel T yang tersensitisasi melepaskan sitokin yang merekrut dan mengaktifkan makrofag. Dermatitis kontak terjadi ketika tanaman ivy (urushiol), perhiasan nikel, dan bahan kimia tertentu (haptens) menembus kulit dan dibawa oleh sel Langerhans ke sel T memori, menyebabkan peradangan lokal dan lepuh. Reaksi tuberkulin melibatkan injeksi turunan protein murni (PPD) intradermal dari M. tuberkulosis, menyebabkan indurasi pada 48-72 jam pada individu yang peka (uji Mantoux untuk paparan TB). Hipersensitivitas granulomatosa terjadi ketika antigen persisten (M. tuberkulosis, M. leprae, jamur) menginduksi pembentukan granuloma dengan makrofag epiteloid dan sel raksasa berinti banyak.

Klasifikasi Hipersensitivitas Lainnya

Selain empat tipe utama, Tipe V (Stimulasi) melibatkan antibodi yang merangsang fungsi reseptor, bukan memblokirnya, seperti yang terlihat pada imunoglobulin perangsang tiroid pada penyakit Graves, yang mengikat reseptor TSH dan menyebabkan hipertiroidisme. Tipe VI (ADCC) kadang-kadang dikelompokkan dengan Tipe II dan menekankan pembunuhan sel target yang dilapisi antibodi yang dimediasi sel NK.

Relevansi Klinis Hipersensitivitas

Reaksi hipersensitivitas obat dapat meniru keempat jenis tersebut dan memerlukan diagnosis klinis yang cermat. Memahami tipe yang mendasari panduan pengobatan: antihistamin untuk Tipe I dan imunosupresi (kortikosteroid, siklofosfamid) untuk Tipe II hingga IV. Pra-skrining (defisiensi G6PD sebelum primakuin, HLA-B*5701 sebelum abacavir) dapat mencegah hipersensitivitas parah.