Keganasan hematologi adalah kelainan neoplastik klonal yang timbul dari sel induk hematopoietik atau sel progenitor di sumsum tulang. Mereka mencakup beragam kelompok penyakit yang diklasifikasikan berdasarkan garis keturunan sel (myeloid vs limfoid) dan perilaku klinis (akut vs kronis). Laboratorium berperan penting dalam diagnosis melalui CBC, smear darah tepi, pemeriksaan sumsum tulang, flow cytometry, sitogenetika, dan pengujian molekuler.
Kerangka Klasifikasi
Klasifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengintegrasikan gambaran klinis, morfologi, imunofenotipe, genetika, dan penanda molekuler. Kategori utama meliputi: neoplasma mieloproliferatif (MPN, misalnya, CML, PV, ET, PMF), sindrom myelodysplastic (MDS), neoplasma tumpang tindih myelodysplastic/myeloproliferative (MDS/MPN, misalnya CMML), leukemia myeloid akut (AML) dan neoplasma terkait, neoplasma limfoid prekursor (ALL/LBL), neoplasma sel B matang (CLL/SLL, DLBCL, limfoma folikuler, multiple myeloma, limfoma Hodgkin), dan neoplasma sel T dan sel NK yang matang.
Pendekatan Diagnostik
Evaluasi awal dimulai dengan hitung darah lengkap dan diferensial. Kelainan mungkin termasuk sitopenia (anemia, trombositopenia, neutropenia) akibat kegagalan sumsum tulang, atau sitosis (leukositosis, trombositosis, eritrositosis) yang menunjukkan proses proliferasi. Ledakan — sel yang belum matang dengan rasio inti-sitoplasma tinggi, kromatin terbuka, nukleolus menonjol, dan sitoplasma basofilik — merupakan ciri khas leukemia akut. Apusan darah tepi diperiksa untuk mengetahui adanya ledakan, morfologi WBC abnormal (neutrofil displastik, anomali Pelger-Huët, monosit abnormal), dan morfologi sel darah merah abnormal (sel tetesan air mata pada mielofibrosis, sel darah merah berinti). Trombositopenia atau trombositosis juga dapat terjadi.
Aspirasi dan Biopsi Sumsum Tulang
Aspirasi dan biopsi sumsum tulang penting untuk diagnosis pasti. Aspirasi menyediakan sel untuk penilaian morfologi (jumlah diferensial, persentase ledakan, displasia), sitometri aliran (imunofenotipe), analisis sitogenetik (kariotipe, IKAN), dan studi molekuler (PCR, sekuensing). Biopsi (inti trephine) memberikan arsitektur: seluleritas, fibrosis, pola infiltrasi, dan granuloma. Jumlah ledakan > 20% dalam darah atau sumsum tulang menunjukkan leukemia akut sesuai kriteria WHO (kecuali AML dengan kelainan genetik berulang). Aspirasi keran kering menunjukkan myelofibrosis atau sumsum tulang yang padat.
Aliran Sitometri
Flow cytometry sangat penting untuk penetapan dan klasifikasi garis keturunan. Sel diwarnai dengan antibodi terkonjugasi fluorokrom terhadap antigen cluster of differential (CD). Penanda myeloid: CD13, CD33, CD117, myeloperoxidase (MPO), CD11c, CD14, CD64, CD15. Penanda monositik: CD14, CD64, CD11c, CD36. Penanda eritroid: CD235a (glikoforin A), CD71. Penanda megakariositik: CD41 (GPIIb), CD61 (GPIIIa), CD42b. Penanda B-limfoid: CD19, CD20, CD22, CD79a, PAX5, imunoglobulin permukaan. Penanda T-limfoid: CD2, CD3, CD5, CD7, CD4, CD8. Penanda sel pembunuh alami (NK): CD16, CD56, CD57. Leukemia akut selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan garis keturunan: leukemia myeloid akut (AML), leukemia limfoblastik akut B (B-ALL), dan leukemia limfoblastik akut T (T-ALL). Leukemia akut fenotipe campuran (MPAL) mengekspresikan penanda lebih dari satu garis keturunan.
Sitogenetika dan Genetika Molekuler
Kelainan kromosom merupakan ciri khas dari banyak keganasan hematologi dan membawa informasi prognosis yang penting. Translokasi berulang pada AML termasuk t(8;21)(q22;q22) RUNX1-RUNX1T1, inv(16)(p13.1q22) CBFB-MYH11, t(15;17)(q24;q21) PML-RARA (leukemia promyelocytic akut), dan t(9;11)(p22;q23) KMT2A-MLLT3. Pada ALL, kelainan umum termasuk hiperdiploidi, t(12;21) ETV6-RUNX1, t(9;22) BCR-ABL1 (Ph-positif ALL), dan penataan ulang KMT2A. Dalam CML, t(9;22) BCR-ABL1 bersifat patognomonik. Kromosom Philadelphia (Ph) t(9;22) juga terlihat pada beberapa kasus ALL dan jarang pada AML. Hibridisasi fluoresensi in situ (FISH) mendeteksi penataan ulang spesifik, sementara kariotipe memberikan pandangan genom secara luas. Pengujian molekuler dengan PCR dan pengurutan generasi berikutnya mengidentifikasi mutasi pada gen seperti NPM1, FLT3-ITD, CEBPA, RUNX1, TP53, IDH1/2, DNMT3A, ASXL1, dan JAK2.
Pemantauan Penyakit Residu Minimal (MRD).
MRD mengacu pada keberadaan sel leukemia di bawah ambang deteksi morfologis (biasanya <5% ledakan). MRD adalah prediktor terkuat kekambuhan leukemia akut. Metode deteksi meliputi sitometri aliran multiparameter (sensitivitas 10⁻⁴ hingga 10⁻⁵), amplifikasi PCR dari transkrip fusi (sensitivitas 10⁻⁵ hingga 10⁻⁶), dan pengurutan penataan ulang klon generasi berikutnya (sensitivitas 10⁻⁶). Pemantauan serial MRD memandu intensifikasi pengobatan, waktu transplantasi sel induk, dan deteksi dini kemungkinan terjadinya kekambuhan.