Sterilisasi dan desinfeksi adalah proses penting dalam mikrobiologi, perawatan kesehatan, dan praktik laboratorium. Sterilisasi menghilangkan segala bentuk kehidupan mikroba, termasuk spora, sedangkan desinfeksi mengurangi beban mikroba pada permukaan benda mati.
Definisi dan Level
- Sterilisasi: Pemusnahan seluruh mikroorganisme, termasuk endospora bakteri. Dicapai dengan metode fisik atau kimia.
- Disinfeksi: Pemusnahan sebagian besar mikroorganisme patogen, namun tidak harus seluruh bentuk mikroba. Disinfektan tingkat tinggi membunuh spora jika terpapar dalam waktu lama.
- Antisepsis: Penerapan agen antimikroba pada jaringan hidup untuk mengurangi risiko infeksi.
- Sanitasi: Pengurangan populasi mikroba ke tingkat aman sebagaimana ditentukan oleh standar kesehatan masyarakat.
Metode Sterilisasi Fisik
- Autoklaf (Sterilisasi Uap): Panas lembab pada suhu 121°C dan 15 psi selama 15-20 menit mengubah sifat protein dan menghancurkan semua mikroorganisme termasuk spora. Metode paling andal untuk media laboratorium, instrumen, dan limbah biohazard.
- Panas Kering: 160-170°C selama 2 jam mengoksidasi komponen seluler. Digunakan untuk peralatan gelas, instrumen logam, dan bubuk yang tidak dapat diautoklaf.
- Filtrasi: Filter membran (ukuran pori 0,22 µm) menghilangkan bakteri dan jamur dari larutan yang sensitif terhadap panas seperti antibiotik, serum, dan enzim. Filter HEPA menghilangkan partikel di udara.
- Radiasi: Radiasi gamma (cobalt-60) dan radiasi berkas elektron merusak DNA. Digunakan untuk sterilisasi peralatan plastik sekali pakai, implan medis, dan obat-obatan.
Sterilisasi dan Disinfeksi Kimia
- Etilen Oksida (EtO): Bahan pengalkilasi gas yang digunakan untuk peralatan medis yang peka terhadap panas. Memerlukan peralatan khusus dan aerasi karena toksisitas.
- Glutaraldehida: Larutan 2% bertindak sebagai disinfektan tingkat tinggi untuk endoskopi dan instrumen bedah. Memerlukan waktu 10-30 menit untuk desinfeksi dan hingga 10 jam untuk sterilisasi.
- Hidrogen Peroksida: larutan 3-6% untuk desinfeksi permukaan; H2O2 yang diuapkan digunakan untuk mensterilkan ruang tertutup dan peralatan laboratorium.
- Sodium Hipoklorit (Pemutih): larutan 0,1-1% untuk desinfeksi permukaan. Efektif melawan bakteri, virus, dan jamur. Korosif terhadap logam.
- Alkohol (70% Etanol atau Isopropanol): Mendenaturasi protein dan melarutkan lipid. Efektif untuk antisepsis kulit dan desinfeksi permukaan, tetapi tidak bersifat sporisidal.
Pemantauan Sterilisasi
- Indikator Biologis: Spora Geobacillus stearothermophilus (untuk autoklaf) atau Bacillus atrophaeus (untuk panas kering) digunakan untuk memastikan sterilisasi dengan menguji kelayakan setelah pemaparan.
- Indikator Kimia: Pita autoklaf atau strip indikator berubah warna ketika kondisi sterilisasi terpenuhi.
- Pemantauan Fisik: Catatan suhu, tekanan, dan waktu dicatat untuk setiap siklus sterilisasi.
Faktor yang Mempengaruhi Disinfeksi
- Konsentrasi: Konsentrasi disinfektan yang lebih tinggi umumnya meningkatkan tingkat pembunuhan, namun alkohol di atas 90% kurang efektif karena berkurangnya penetrasi.
- Waktu Kontak: Waktu pemaparan yang memadai sangat penting; waktu kontak minimum harus diikuti sesuai instruksi pabrik.
- Kandungan Organik: Darah, serum, dan bahan organik lainnya dapat melindungi mikroorganisme dan mengurangi kemanjuran disinfektan. Pra-pembersihan sangat penting.
- Suhu dan pH: Suhu yang lebih tinggi meningkatkan aktivitas disinfektan, dan pH optimal bervariasi berdasarkan jenis disinfektan.