Ikhtisar
Analisis K-mer menguraikan urutan biologis menjadi semua kemungkinan substring dengan panjang tetap k dan menghitung frekuensinya. Teknik sederhana namun kuat ini menangkap sifat komposisi genom dan transkriptom tanpa memerlukan penyelarasan, menjadikannya efisien secara komputasi dan bebas referensi. Distribusi frekuensi K-mer mengungkapkan ukuran genom, heterozigositas, konten berulang, dan tingkat kesalahan pengurutan dari pembacaan mentah sebelum langkah perakitan apa pun. Pemilihan k melibatkan trade-off: nilai k yang kecil (k < 20) memberikan penghitungan yang kuat namun daya diskriminatifnya terbatas, sedangkan nilai k yang besar (k > 50) menawarkan spesifisitas yang tinggi namun cakupannya lebih rendah.
Konsep Utama
Spektrum k-mer: histogram frekuensi kemunculan k-mer, mengikuti distribusi mirip Poisson pada data ideal. K-mer yang salah akibat kesalahan pengurutan muncul sebagai singleton (frekuensi 1), sedangkan k-mer genom asli membentuk puncak pada kedalaman cakupan yang diharapkan. Pengulangan genom menghasilkan puncak tambahan pada multiplisitas yang lebih tinggi. Alat seperti Jellyfish dan KMC secara efisien menghitung k-mer menggunakan tabel hash atau array sufiks. Selain penghitungan, metode berbasis k-mer juga mencakup jarak k-mer (fraksi k-mer bersama antara dua sampel) untuk filogeni, cakupan k-mer untuk memperkirakan ukuran genom, dan spektra k-mer untuk koreksi kesalahan dengan menghapus k-mer di bawah ambang batas cakupan.
Aplikasi
Analisis K-mer merupakan bagian integral dari kontrol kualitas pengurutan generasi berikutnya, mendeteksi kontaminasi dan memperkirakan cakupan sebelum perakitan. Dalam genetika bakteri, metode berbasis k-mer membedakan strain berdasarkan ciri komposisi uniknya. Binning metagenomik menggunakan vektor frekuensi k-mer untuk mengelompokkan contigs dari organisme yang sama. Proyek pengurutan DNA menggunakan penghitungan k-mer untuk memperbaiki kesalahan pengurutan dengan mengganti basis yang salah yang menghasilkan k-mer frekuensi rendah.